Suara-Suara Itu
Nyanyian riang Prenjak di pagar rumah, cericip gembira Cinenen atau siulan memilukan Kedasih. Ah…itu suara alam yang dahulu sering kita dengar di tempat yang bergelar kota sekalipun. Sekarang? ya masih bisa juga kita dengar, hanya saja tak seramai dulu. Kalaupun suaranya masih terdengar ramai, maka tempatnya bisa dikatakan bukan lagi di kota. Pergilah ke kuburan kalau hendak mendengar Kedasih, begitu seorang teman berkata.
Kemana mereka pergi? Apakah tanaman penghias halaman tidak lagi ramah buat mereka? Apakah taman-taman kota itu tak lagi menarik untuk mereka kunjungi? Atau … mungkin karena kita saja yang tak sabar menunggu mereka berkicau. Perubahan apa yang sudah terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan begini yang berkaitan dengan keberadaan para common birds, burung (yang mestinya ) umum (dijumpai), tidak hanya muncul di negara yang kaya akan keanekaragaman hayati seperti Indonesia. Hilangnya burung-burung tersebut dari sekitar tempat manusia bermukim dirasakan di banyak negara. Berbagai sebab lantas diteorikan. Persisnya apa dan bagaimana, tak ada juga jawaban pasti.
Seorang kawan lantas berucap, kita terlalu sering mengabaikan mereka karena mereka selalu ada di sekitar kita. Dengah fasih banyak orang bisa bercerita tentang burung yang dilabeli “secara global terancam punah”. Tetapi berapa banyak dari kita yang bisa bercerita tentang Cinenen yang dahulu setiap pagi ngoceh di depan jendela itu.
Prenjak, Cinenen, Kedasih atau bahkan mungkin Bondol atau burung Gereja, sudah saatnya diperhatikan. Jika burung memang merupakan indikator yang baik untuk menilai keadaan lingkungan, kepergian mereka bisa jadi pertanda tak sedap. Lantas, menurut anda apakah mereka memang layak untuk diperhatikan?


yap, setujuuuuu
terkadang untuk sesuatu yang dah masuk daftar endagered, CE, Vu cenderung lebih wahh…
mungkin bisa kita mulai dengan bikin keg. ‘berkenalan dengan burung disekitar rumah kita’, kegiatan yang lebih ditujuan for kids, anak-anak. soalnya kan anak-anak investasi masa depan, bikin sesuatu yang bisa dimengerti anak-anak, berkenalan dengan burung dengan permainan-permainan. yah…modal kalo mereka dah gede nggak lagi ngetapel burung, nangkep burung he…he…jadi masih bisa liat prenjak, sriganti dll.
thanks
naring
Gw setuju bgt,pa lg dirumah gw udah jarang banget ngeliat cinenen,paling sering sich brg cabe.Mungkin karena sering melihat,orang-orang ga perhatian sampai-sampai jumlahnya berkurang mereka ga peduli.Solusinya,kita buat kelompok pengamat burung di sekitar rumah atau sekolah atau kampus.TQ