Tragedi Pak Tua Bersepeda
Apa beda antara pedagang dan penjual burung? Tanyakanlah kepada Pak Tua bersepeda dengan kandang unggas dan ikan ini. Ia mungkin akan menjawab, “Sama saja.”
Barangkali juga ia malah tak peduli. Pedagang atau penjual apa bedanya?
Tapi, coba tanyakan kepadanya bagaimana ia bertahan hidup? Ia mungkin akan menjawab, “Ya menjual burung.”
Demi berapa ribu rupiah?
Entah. Pokoknya asal bisa membuat dapurnya berasap kembali.
Pak Tua ini mungkin juga tak pernah peduli bahwa burung-burung yang setiap hari dijualnya pada anak-anak Sekolah Dasar itu suatu saat akan habis. Punah.
Berani bertaruh, boleh jadi ia bahkan tak peduli apakah suatu saat kelak ia kehabisan barang jualannya Mungkin ia memang tak pernah diberi tahu.
Pak Tua itu hanya tahu bahwa prenjak, emprit, punai, gelatik, dan sebangsanya, itu bisa mempanjang nafas kehidupannya. Bisa membuat keluarganya makan. Bisa membuat anak-anaknya bersekolah. Bisa membuat istrinya tersenyum.
Pekerjaan Pak Tua itu mungkin tragedi besar bagi gerakan cinta burung. Tapi siapa yang peduli di tengah angka kemiskinan di negeri ini yang begitu gawat? Kita?


Kata Pak Presiden keminkinan udah turun drastis (Pidato Tahunan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan DPR, 16 agustus 2006)
Hmm….(kening berkerut !!)…meski hanya baca berita yang ditulis dengan ringan tapi lugas….
di Inggris dan banyak negara lain yang sukses dengan konservasi dan kegiatan semacam birdwatching…apakah tidak ada “pak tua” yang berujud pet shop atau bird shop ??
ada yang punya info ?
thanks
ige
yang dilakukan pak tua..?mau gimana lagi…daripada seperti ini. Beberapa hari yang lalu saya melihat seorang bapak dengan senjata angin ditangan sedang melongok ke sebuah pohon hendak memburu seekor burung..dan yang ia lakukan adalah sebuah HOBI!!!
Lalu baru kemarin saya berjalan2 bersama teman di sebuah jalan kampung di sby..saya melihat seekor elang bondol (juv. kyknya)di sebuah dengan kaki terikat diam melongo di atas sebuah tembok…tak jauh dari rumah itu yang saya liat adalah sang Sturnus melanopterus yang terkungkung dalam sebuah sarang (lebih tepatnya jeruji untuk sang burung)….oh…betapa nasib burung2 itu
yahh…di Indonesia apa sih yang nggak mungkin. untuk membuat dapur ngepul semua orang butuh kerja, si pak tua dan burung jadi bagian dari sejarah kemiskinan indonesia. kalau saja negeri ini menyisakan lapangan kerja buat si pak tua? ya….mungkin aja, melestarikan burung di alam denagn membuat alternatif lapangan pekerjaan bagi para pemburu dan penjual….hemmm tantangan berat. salam
Ah Dasar pemburu / penjual burung sama aja…. Kerjaannya ngurangin populasi burung doank…
emang gk ada kerjaan laen apa???!!!!!!!!!!1