Profil Agus di Koran Tempo
Koran Tempo menuliskan profil tentang rekan kita Agus Priyono pada edisi Minggu kemarin (29/10). Beginilah koran itu menulis. Selamat menikmati.
Warna-warni Keindahan Satwa
Melukis seekor burung bisa makan waktu berbulan-bulan. Jarinya lincah memainkan kuas. Hati-hati sekali dia menarikan berbagai warna cat akrilik. Semestinya memang begitu. Bukan apa-apa, salah sedikit saja, repot akibatnya. Sketsa yang tengah diwarnai itu adalah seekor burung cenderawasih yang penuh dengan beragam rona. Di lain waktu, dia pun melakukan hal serupa di sketsa satwa yang lain.
Seperti itulah pekerjaan sehari-hari Agus Priyono, 36 tahun. Saat ditemui di kantornya, di Pusat Informasi Lingkungan Indonesia, Bogor, dia sedang sibuk membuat buku panduan satwa liar di Indonesia yang dilindungi.
Pekerjaan Agus sebenarnya tiada berbeda dengan ilustrator mana pun. Dia membuat ilustrasi alias gambar. Tapi, karena ilustrasinya menyangkut satwa, dia tidak bisa sembarang mengikuti imajinasinya. Seorang ilustrator satwa dituntut menggambar dengan akurasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Agus menuturkan, untuk membuat ilustrasi satwa, dibutuhkan pemahaman mengenai ciri-ciri diagnostik spesies yang digambarnya. Ciri-ciri itu, misalnya, bentuk paruh, kaki, warna tubuh, bentuk kepala, dan cara terbang. “Lukisan satwa memang banyak diproduksi, tapi ciri diagnostiknya salah,” katanya.
Profesi yang digeluti Agus berawal dari kegemarannya mengamati burung di Pulau Jawa dan Sumatera. Di salah satu sesi pengamatan, peserta biasanya diminta membuat sketsa burung yang sedang ditelaahnya. Dari situ ia menyadari menggambar detail satwa adalah pekerjaan yang sangat menarik.
Pekerjaan profesional pertama Agus datang pada 1996. Ketika itu ia masih kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Teman-temannya di Jurusan Biologi Universitas Indonesia memintanya menggarap ilustrasi burung untuk buku tentang burung-burung yang ada di Jakarta.
Sejak saat itu pengguna jasanya terus bertambah, dari lembaga swadaya masyarakat, penulis buku ilmiah, sampai media cetak. Proyek terbaru yang diselesaikannya 5 Oktober lalu adalah membuat peta burung Nusantara bekerja sama dengan majalah National Geographic Indonesia.
Sekarang ia tengah terlibat dalam penyusunan buku mengenai satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Buku ini dibuat atas prakarsa dua orang Belanda, yaitu Ed Colijn dan Piet Eggen. “Saya bertugas membuat ilustrasi burung, ikan, dan mamalia,” ujar lajang ini.
Menurut dia, tidak banyak ilustrator yang melakukan pekerjaan seperti dirinya. Salah satu alasannya, ilustrator ilmiah harus menguasai benar obyek yang dilukisnya. Selain berpegang pada referensi, sebaiknya ilustrator ilmiah mengamati secara langsung obyeknya.
Ia mengingatkan, foto satwa sering kali tidak bisa menunjukkan ciri-ciri diagnostik secara benar. Sebab, variasi satwa di alam sangat banyak untuk setiap individu. Contohnya burung. Ada beberapa jenis burung yang bentuknya berubah saat anak-anak, remaja, dan dewasa.
Begitu pula untuk jenis burung-burung migran. Sebagian jenis burung pendatang ini mempunyai warna bulu yang berbeda ketika berada di tempat asalnya dengan saat berada di tempat migrasinya.
Tidak kaku pada aturan ilmiah, pada kondisi tertentu Agus juga bisa memasukkan unsur artistik di dalam karya-karyanya. Beberapa elemen artistik yang bisa diolah, misalnya menampilkan perilaku burung yang unik, menonjolkan warnanya, atau menyertakan habitat di dalam lukisan. “Misalnya burung rangkong. Ekornya yang putih bisa saja digambar tertutup tumbuh-tumbuhan tempat dia hidup,” ujarnya.
Lama pengerjaan satu proyek bervariasi. Dia menunjuk contoh, pembuatan peta burung Nusantara National Geographic Indonesia, yang berisi 37 spesies burung, membutuhkan waktu sekitar delapan bulan. Kesulitan utamanya adalah mencari foto burung yang sedang terbang dalam posisi bagus.
Proyek yang sedang berjalan, yaitu membuat buku panduan satwa liar yang dilindungi di Indonesia, masih terus berlangsung. Agus hanya sanggup menyelesaikan 12 gambar dalam sebulan karena harus melakukan riset referensi, mengumpulkan foto, membuat sketsa, dan memperbaiki gambar yang salah.
Tidak cuma burung, dalam pembuatan buku ini Agus dipercaya untuk melukis mamalia dan amfibi. “Jumlah burung saja mencapai sekitar 300 spesies, belum lagi spesies lain. Saya rasa buku ini baru selesai tiga tahun lagi,” katanya.
Pola pembayaran honor, kata Agus, berbeda-beda untuk setiap klien. National Geographic, misalnya, membayar Agus berdasarkan jumlah lukisan spesies yang dibuat. Sementara itu, dalam pembuatan buku satwa liar, ia mendapat kiriman honor setiap bulan hingga buku ini selesai. “Jumlahnya cukuplah untuk menabung,” tuturnya. [EFRI RITONGA | KORAN TEMPO]


siiiiiipppppppp………….maju terus
saya pernah liat hasil gamber mas Agus y dipublish NGI. Keren banget. sampe lupa ngedip…
lah agus udah sibuk trus ngajarin tmen2 KSLB gambar kapan ya .. Ps:ga pake honor kan ….