Layang-Layang di Langit Yogyakarta
Rintik air jatuh dari langit, setelah panas mentari hari itu menyengat kehidupan kota Jogjakarta. Rabu (8/11/06) sore itu, kala sang surya bersinar kemerahan bersiap bersembunyi di ufuk barat, dan sang dewi malam dengan sedikit malu-malu menampakan keanggunan sinarnya yang diiringi kumandang adzan magrib dari pengeras-pengeras suara masjid saling bersahutan bergema, ribuan burung Layang-layang api (Hirundo rustica) menari-nari di langit dengan indahnya. Setiap mata diatas kendaraan yang berhenti di perempatan lampu merah kantor pos terbesar di yogya itu memandang takjub, ‘walet….walet’, kata itu yang keluar saat menyaksikan ribuan burung bak titik-titik hitam melayang-layang di merahnya atap bumi.

Bagi masyarakat awam, walet menjadi sangat umum untuk penyebutan burung yang senang terbang melayang-layang dan seolah saling menyambar. Tak banyak orang tahu bahwa para penari-penari indah itu telah terbang menempuh ribuan kilometer perjalanan dari belahan bumi utara dan menyempatkan singgah di jantung kota Jogja menyuguhkan pemandangan nan indah. Ya…bulan November ini ternyata ribuan Layang-layang api ini telah datang kembali di bumi pertiwi. Singgah pada gedung-gedung tinggi di sekitaran kawasan padat manusia Malioboro, kantor pos dan bank BNI, bertengger di kawat-kawat listrik di beberapa wilayah di tengah kota Jogjakarta bahkan hingga pinggiran kota, serta pada pohon-pohon tinggi, distribusinya menyebar dari dataran rendah hingga dataran tinggi (gunungkidul, sleman, kota Jogja, kulonprogo dan bantul).
Sayangnya setiap mata manusia yang memandanginya tak banyak yang tahu siapakah burung ini, dan darimana berasal hingga dapat mencapai ribuan menguasai langit. Dalam benak mereka mungkin hanya terbesit ‘wah….ini musim walet dan kalau sudah banyak pasti hujan segera datang’, ini pertanda alam. Ya…peristiwa alam masih menjadi keyakinan sebagian masyarakat dalam prediksi cuaca, seperti kepercayaan masyarakat akan datangnya ribuan penghuni langit ini di percaya musim hujan akan segera tiba, seperti sore itu, ditengah hujan rintik yang rata di kota gudeg.

Toh keyakinan ini telah di percaya bertahun-tahun sepanjang sejarah migrasi burung dan sejarah peradaban dan perkembangan pengetahuan manusia. Burung, alam dan manusia menjadi satu ikatan, saling berkomunikasi lewat tanda-tanda. Kehadiran Layang-layang api di nusantara memberi semangat hidup baru masyarakat dengan keyakinan datangnya air dari langit. Tarian-tarian indah di cakrawala pertiwi memberi pemandangan senja dengan suguhan lampu-lampu kota dan alunan musik alam serta semilir angin yang menjanjikan damai suasana sore bersama burung-burung kecil pendatang dari luar negeri. (Naring-YKI/8/11/2006)


Wo…kok gak ajak-ajak Kon….nggosip ah….cuman mau ber-2-an sama Imam ya…?
iya no…he..he…situ tim investigasi gosip pengamat burun Indonesia ya….
hati-hati aja
naring
fotonya bagus - bagus yah, jadi pengen pulang kampung deh….
WoW… Momen yg langka…. Saya saja hanya melihat beberapa ekor terbang di dekat rumah saya didaerah Pondok Bambu, Jakarta Timur….