Rindu Teman-Teman Cantik di Hari Minggu
Pukul 11:00 kami memulai petualangan untuk birdwatching (mengamati burung), jalur pendakian dari kinah rejo menjadi pilihan. Cuiit…..cuiiit belum sampai 500 meter kami menempuk perjalanan sudah disuguhi seekor burung madu cantik warnanya, merah sengan hiasan ungu tua dikepalanya. Kontan semua binokuler yang kami bawa menatap kearah si mungil di rimbunan bunga, buku MacKinnon (Jawa-Bali) pun di buka, yap… Burung madu jawa (Aethopyga mystacalis) jantan, kebetulan dari kami berdelapan belum pernah ada yang melihat si jantan ini.
Perjalanan kami lanjutkan, belum beranjak jauh sepasang Gagak hutan terbang melintas sambil mengeluarkan suara khasnya. Awal yang menyenangkan, ternyata kami tidak kesiangan untuk bertemu dengan teman-teman cantik lainnya. Jalur yang kami tempuh tidak naik keatas, karena hari telah siang kamipun memilih menunggu di lereng bukit yang saking berhadapan, biasanya burung-burung akan bersatangan. Dan ya…melintas didepan kami Kepudang kuduk-hitam, bertengger pada pohon dadap tak lama, di bawah pun terbang dengan cepat menggoda pandangan kami Ciung-batu kecil, si biru metalik yang tampak hitam ini bergerak cepat dan bersuara keras, cukup memaksa kami bekerja keras mencarinya, dengan santai ia bertengger di pohon puspa di kemiringan bukit.
Para burung pemangsapun datang menghampiri seolah tak ingin ketinggalan beratraksi, si Elang hitam soaring di atas bukit, tak lama di susul Elang-ular bido yang melintas dan bertengger di pohon dadap. Sesaat…wusss dari balik bukit melayanglah si gagah Elang jawa (Spizaetus bartelsi), sempat membuat kami takjub, namun sayang tak lama ia melayang-layang sebab si kecil Srigunting hitam segera melakukan penyerangan, mengalahlah si burung endemik yang telah masuk ke dalam daftar Endangered ini.
Kamipun melanjutkan perjalanan, satu persatu burung bermunculan. Sekelompok Sepah gunung asyik bermain-main di tajuk pohon Puspa yang tengah berbunga, ‘wah…cantik banget’, ujar Riska pelajar SMP yang ikut bersama kami. Lalu sepasang Cica kopi melayu pun sempat teramati di antara pohon-pohon bambu, Munguk beledu, Cikrak daun, Gelatik-batu kelabu, Kipasan ekor-merah, Tepus pipi-perak dan Cekakak jawa. Burung-burung itupun tampak saling bersahutan memamerkan suara-suara indahnya.
Kabut mulai turun dan waktu telah pindah ke pukul 14:00 WIB, kami pun menyudahi perjalanan hari ini, Puas rasanya menghabiskan waktu libur dengan berkenalan dengan para penghuni alam, apalagi di akhir perjalanan, kami disuguhi Elang jawa yang bertengger dengan anggunnya, tak lama sekitar 2 menit sebab telah diganggu oleh Gagak hutan yang melayang mendekat. Luar biasa, sedikit memang yang kami jumpai dari lebih dari seratus jenis burung yang ada di lereng selatan Merapi, namun meninggalkan sepenggal cerita menarik bagi pengalaman hidup kami. (Sunaring Kurniandaru/PPBJ)


Halu mba naring…aduh..kerennya..jadi inget waktu dulu k sana…kapan ya ke sana lagi? Kalo aku ke sana, tolong jadi guide lagi ya ;D..Gmana anakan Elang hitamnya?udah gede belum?masih pada rajin to? Met birdwatching yaaa…
Nonie
haloo juga jeng Nonie…..iya jadi inget di usir pak polis kan…hehe tapi dasar anak-anak bandel tetep aja nekat naik…anakana elang hitan yang tertanda aku belum lihat tapi beberapa kawan yang lain sering lihat, mungkin belum berjodoh sama aku kali ya….
yap kapan ke jogja, eh…gimana kalo ke slamet aja keren juga lho….Non…
thanks… informasi bagus
mksh….? bgus ko….! buat pngetahuan gt…..?
WoW.. Nice birding… Bs ksh tau lokasi lengkapnya??
Family Karso in common or …
read the story …
Slamet Karso is father and former wife Sara. They have been separated for more than 15 years and lived in Suriname in the judicial district of Sara mac CA.
The children resident in the Netherlands:
Kabul-woontlelystad
Henry resides in the Hague
-Ruben resides in the Hague
-David
-Louise lives in Zoetermeer
-Toie (ingrid) resides in the Hague
Sara (the ex-wife lives in the Hague fire Street 32) lived in karso Slamet Saramacca River with a woman. Slamet and his wife are invited by the children to visit Indonisa.
Therefore, the journey from Suriname to the Netherlands and then to Indonesia.
Karso is in Slamet Indonisia died. This ex-wife, Sara, the House completely emptied Saramacca River. The current woman, now a widow is not aware of it because there are still to go on holiday in the Netherlands.
Sara has all of the stuff, including clothes of current wife, sold/surrendered. Also the valuable papers of the widow is lost.
What do you think of it?