Menulis? Siapa Takut
Menulis, seperti halnya naik sepeda, hanya bisa terwujud kalau kita benar-benar memulainya.
“Kalau mau nulis ya langsung nulis saja, jangan cuma dipikir-pikir angan-angan. Buka komputer, lalu ketikkan apa saja yang mau ditulis,” begitu nasihat para penulis kawakan.
“Masalahnya, apa yang bisa dijadikan bahan tulisan? Bagaimana pula menulis yang baik?” tanya para calon penulis.
Ide tulisan bisa tentang apa saja dan dari mana saja, yang penting berpotensi menarik perhatian orang. Kehidupan peneliti burung di daerah terpencil, petualangan memburu jejak trulek Jawa, asyiknya memasang bendera burung-burung pantai Wonorejo, atau profil penyusun field guide misalnya, adalah beberapa contoh ide yang sangat potensial dibuat menjadi sebuah tulisan.
Setelah mendapatkan ide, pekerjaan berikutnya adalah menuliskannya.
Pada dasarnya, menulis yang baik itu menuangkan apa yang ada di kepala kita menjadi bacaan yang mudah dipahami orang. Kalau pembaca susah mengerti sebuah tulisan, berarti tulisan itu belum baik.
Karena itu, yang pertama kali harus diupayakan adalah membuat tulisan yang mudah dimengerti. Tuangkan cerita yang ingin disampaikan dengan bahasa yang lugas dan penjelasan yang runtut.
Salah satu bentuk tulisan yang bisa dipilih adalah feature.
Mengapa feature?
Feature bertujuan menghibur melalui penggunaan bahan yang menarik, tapi tidak selalu penting.
Apakah feature?
Inilah batasan klasik mengenai feature: ‘’Cerita feature adalah artikel yang kreatif, kadang-kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.'’
Feature mengandung unsur-unsur seperti:
Kreativitas
Berbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan setiap calon penulis ‘’menciptakan'’ sebuah cerita.
Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat — karangan fiktif dan khayalan tidak boleh — penulis bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.
Subyektivitas
Beberapa feature ditulis dalam bentuk ‘’aku'’, sehingga memungkinkan penulis memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Boleh-boleh saja menulis dengan memakai “aku” sebagai tokoh. Hanya saja jangan sampai ada kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya ‘’aku'’. Kebanyakan penulis kawakan memakai pedoman begini: ‘’Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.'’
Informatif
Feature bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah museum zoologi atau kebun binatang yang terancam tutup.
Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.
Menghibur
Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi seorang penulis untuk memancing perhatian orang.
Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita. Feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan.
Seorang penulis bisa membuat ‘’cerita berwarna-warni'’ untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.
Awet
Berbeda dari berita yang dimuat di surat kabar, misalnya, yang umurnya hanya sehari, feature lebih awet. Tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting — fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan empati, disamping tetap tidak meninggalkan unsur informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human interest atau kisah yang berwarna (colourful).
JENIS-JENIS FEATURE
Feature kepribadian (Profil)
Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dramatik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimmewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pencapaian dan tanggal-tanggal penting dari kehidupan si individu.
Profil harus bisa mengungkap karakter manusia itu. Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus mengamati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi rumah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka.
Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggambarkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga semestinya bisa memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.
Banyak sumber yang diwawancara mungkin secara terbuka bernai mengejutkan Anda dengan mengungkap rahasia pribadi atau anekdor tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk memberikan balans dalam penggambaran si tokoh.
Feature sejarah
Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh. Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu.
Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan medis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.
Setiap kota atau sekolah memiliki peristiwa menarik dalam sejarahnya. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji lebih tentang peristiwa-peristiwa itu, mungkin dengan dokumen historis atau dengan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah.
Feature petualangan
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan. Dalam feature jenis ini, kutipan dan deskripsi sangat penting. Setelah bencana, misalnya, penulis feature sering menggunakan saksi hidup untuk merekontruksikan peristiwa itu sendiri. Banyak penulis feature jenis ini memulai tulisannya dengan aksi — momen yang paling menarik dan paling dramatis.
Feature musiman
Seorang penulis bisa membuat feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar. Contoh yang bisa dipakai adalah bagaimana seorang penulis menyamar menjadi Sinterklas di Hari Natal untuk merekam respon atau tingkah laku anak-anak di seputar hari raya itu.
Feature Interpretatif
Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebuah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Misalnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi terorisme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terotisme.
Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk menangkal perampokan. Atau yang mengungkap lebih jauh tipikal perampok bank, termasuk peluang perampok bisa ditangkap dan dihukum.
Feature kiat (how-to-do-it feature)
Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli binokular, menemukan sarang elang, mereparasi kamera, dan sebagainya.
Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Penulis yang belum berpengalaman akan cenderung menceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual.
Materi berikutnya, teknik menulis feature.
Ditulis oleh Wicaksono.


sipp…dapet pegetahuan baru dari mas wicak…kapan nih ditindaklanjuti SBI dengan pelatihan dan workshop menulisnya.
thanks
Makasih banyak mas..Selain feature kan ada juga straight news bukan??
aku baru buka web nya, so..ajari aku nulis yang baik.makasi
bgini pak, saya membuat sebuah program feature yang membahas emengenai sisi positif di dalam punk, dimana didalamnya saya juga mmaparkan mengenai sejarah punk, dan kegiatan -kegiatan positif yang dilakukan oleh nak punk,kira2 itu masuk ke feature apa ya pak?mohin bantuanyya,untuk referensi sidang saya besok.trima kasoh.
wah seneng juga nich baca artikelnya mas wicaksono tentang menulis,jadi tambah wawasan.karena sebenernya saya juga senang menulis,cuma ga pernah tau tulisannya sudah baik atau belum. kapan nich diajarain menulis ?he..he…
oh ya lupa, kapan nich artikel berikutnya terbit ???di antos pisan euy ……