Menikmati Kicauan Burung di Muara Angke
Siapa yang tidak mengenal lokasi Muara Angke? Satu-satunya lokasi hijau di tengah kota Jakarta yang keberadaan mangrove-nya masih dapat dirasakan dan dinikmati. Tanggal 12-13 Juli lalu, saya bersama teman-teman dari JGM (Jakarta Green Monster), mendatangi lokasi ini. JGM sudah 5 bulan menjalani monitoring keanekaragaman hayati di lokasi ini.
Pertama saya masuk ke depan gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke, teringat beberapa tahun yang lalu saat saya memasuki lokasi ini sangat berbeda, kurangnya perawatan jembatan depan, terlihat kurang rapinya penataan kantor sampai lokasi jembatan untuk pengamatan burung. Tapi kini, perawatan sudah mulai nampak. Pintu gerbang yang di bangun secara apik menambah penampilan, kantornya pun sudah mulai banyak informasi tentang Muara Angke dan yang paling membuat saya takjub, saat jembatan untuk pengamatan burungnya sudah dibangun secara rapi. Panjang jembatan ini lebih kurang 825 m dan penempatannya pun sudah berbeda dengan yang dulu. Dan tidak kalah menariknya, sepanjang perjalanan banyak jenis-jenis burung dan kicauan yang bisa kita dengar. ![]()
Sabtu sore, saya memulai pengamatan burung di lokasi ini. Beberapa meter dari depan kantor, kicauan burung sudah banyak terdengar. Suara Remetuk laut membuka pengamatan burung saya bersama teman-teman. Tidak lama Caladi ulam mencari makan, tanpa binokuler pun saya sudah bisa melihat caladi ulam berpindah-pindah tempat, tidak lama Gelatik batu dan Kareo padi. Wuah…semangat saya menjadi tambah berkobar, karena belum sampai setengah perjalanan, saya sudah mendapatkan banyak jenis burung. Di lokasi ini juga ada tempat bernama “Bird hide”, tempat untuk pengamatan yang bertujuan untuk mengamati burung tanpa membuat burung merasa terganggu. Sepanjang perjalanan saya melihat Perenjak jawa, Kipasan belang dan Kokokan laut. Matahari yang sudah mulai terbenam membuat keteduhan di lokasi ini. Saya bersama teman-teman duduk-duduk di jembatan sambil mengambil gambar Remetuk laut dan Punai gading. Hari mulai gelap dan kami pun kembali ke kantor.
Sabtu sore, saya memulai pengamatan burung di lokasi ini. Beberapa meter dari depan kantor, kicauan burung sudah banyak terdengar. Suara Remetuk laut membuka pengamatan burung saya bersama teman-teman. Tidak lama Caladi ulam mencari makan, tanpa binokuler pun saya sudah bisa melihat caladi ulam berpindah-pindah tempat, tidak lama Gelatik batu dan Kareo padi. Wuah…semangat saya menjadi tambah berkobar, karena belum sampai setengah perjalanan, saya sudah mendapatkan banyak jenis burung. Di lokasi ini juga ada tempat bernama “Bird hide”, tempat untuk pengamatan yang bertujuan untuk mengamati burung tanpa membuat burung merasa terganggu. Sepanjang perjalanan saya melihat Perenjak jawa, Kipasan belang dan Kokokan laut. Matahari yang sudah mulai terbenam membuat keteduhan di lokasi ini. Saya bersama teman-teman duduk-duduk di jembatan sambil mengambil gambar Remetuk laut dan Punai gading. Hari mulai gelap dan kami pun kembali ke kantor.
Kami kembali bertemu teman-teman JGM yang lain, anggotanya sendiri terdiri dari mahasiswa-mahasiswa dari kampus di Jakarta. Dari Unas, UI, UIA, UNJ, UIN. Malam harinya, kami pengamatan herpet dan reptil. Kami dibagi 2 kelompok, dan saya ikut pengmatan di sepanjang jembatan. Ternyata, cukup banyak jenis-jenisnya. Selain cecak, katak, ular pun bisa dilihat di sini, saya sendiri berhasil mengambil gambar ular lidi dan biawak yang sedang beristirahat. Sekitar 2 jam kami melakukan pengmatan, setelah itu kami pun beristirahat untuk pengamatan burung di pagi hari.
Saya terbangun karena kicauan dari Remetuk laut dan ternyata sudah jam 6 pagi. Lekas saya bangun dan ternyata teman-teman yang lain sedang bersiap untuk pengamatan. Kembali saya dan teman-teman pengamatan di sepanjang jembatan. Pagi hari adalah waktu yang baik sekali untuk pengamatan burung, karena pada saat inilah burung-burung mencari makan. Dan benar, tidak sampai 10 menit saya sudah berhasil mencatat 6 jenis burung. Juga kami menemukan salah satu jenis burung endemik yang makin jarang di dataran rendah, yaitu Jalak putih. Saat melihat jenis ini, tampak sedang bertengger di salah satu pohon. Pengamatan pun berlanjut, Tikusan alis putih sedang mencari makan, Pecuk ular dan Cangak Abu sedang berjemur, Mandar besar terbang, Cucak kutilang berkicau sambil berpindah tempat. Sungguh pengamatan yang mengasikkan, meskipun saya harus menahan teriknya matahari.
Karena lelahnya kami berjalan, akhirnya kami mendapatkan tempat untuk beristirahat. Sinar matahari tertutup oleh pohon Nipah, sehingga kami bisa beristirahat dari teriknya sinar matahari. Sambil beristirahat, kami berdiskusi tentang jenis-jenis yang telah kami dapat. Sekitar 29 jenis burung telah saya catat. Dan bertambah satu saat kami beristirahat, Tangkar cetrong, ya..ini adalah jenis burung baru pertama saya lihat. Awalnya saya kira adalah jenis Srigunting, namun setelah saya diberitahu teman-teman ternyata adalah jensi Tangkar cetrong dan setelah saya amati beberapa kali barulah saya tahu. Bulu ekor yang panjang membuat keindahan tersendiri saat 7 individu Tangkar cetrong terbang bersama-sama. Suaranya pun sangat khas”..creng..creng..plung..”dengan campuran suara yang lain.
Sinar matahari sudah mulai meninggi dan kami pun kembali pulang. Setelah berdiskusi mengenai hasil yang kami dapat, beberapa teman pulang. Dan saya, wati dan Iwan Londo masih di Muara Angke..ya.. kami menunggu tamu istimewa, Craig Robson. Ia bersama teman-teman dari Inggris juga melakukan pengamatan burung di Muara Angke. Sebagia penutupnya, kami foto-foto sebelum akhirnya kami kembali ke rumah.
Saya sangat berharap, lokasi mangrove satu-satunya yang masih bisa dijangkau, Muara Angke, bisa terus dipertahankan. Tidak hanya pengamat burung dari Indonesia sampai luar negeri yang bisa menghabiskan waktu, tapi masyarakat sekitar bisa ikut melihat lokasi ini. Hanya kita yang bisa menjaga Muara Angke kalo kita masih mau mendengar kicauan Remetuk laut dan melihat keindahan dari Tangkar cetrong. (noni)
Jenis-jenis burung yang dilihat:
Pecuk-ular Asia Anhinga melanogaster
Cangak abu Ardea cinerea
Cangak merah Ardea purpurea
Blekok sawah Ardea speciosa
Bambangan merah Ixobrychus cinnamomeus
Itik benjut Anas gibberifrons
Tikusan alis-putih Porzana cinerea
Kareo padi Amaumornis phoenicurus
Mandar besar Porphyrio porphyrio
Punai gading Treron vernans
Tekukur biasa Streptopelia chinensis
Kedasi Australia Chrysococcyx basalis
Walet linci Collacalia linchi
Cekakak sungai Todirhamphus chloris
Caladi tilik Picoides moluccensis
Kapasan Lalage sp
Cipoh kacat Aegithia tiphia
Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster
Tangkar cetrong Crypsirina temia
Gelatik-batu kelabu Parus major
Remetuk laut Gerygone sulphurea
Cinenen pisang Orthotomus sutorius
Perenjak jawa Prinia familiaris
Kipasan belang Rhipidura javanica
Kekep babi Artamus leucorhynchus
Jalak putih Sturnus melanopterus
Burung-madu sriganti Nectarinia jugularis
Bondol peking Lonchura punctulata
Burung-gereja Erasia Passer montanus
Cangak merah Blekok sawah Bambangan merah Itik benjut Tikusan alis-putih Kareo padi Walet linci Cekakak sungai Caladi tilik Kapasan spCipoh kacat Cucak kutilang Tangkar cetrong Gelatik-batu kelabu Remetuk laut Cinenen pisang Perenjak jawa Kipasan belang Kekep babi Jalak putih Burung-madu sriganti Bondol peking Burung-gereja Erasia
Bagaimana mencapai Muara Angke?
Untuk bisa mencapai Muara Angke, kita harus naik kereta atau bis ke arah Kota. Sesudah itu carilah Museum Mandiri yang tidak jauh dari Stasiun Kota, dari depan museum ini, naik bis biru 02 (@Rp. 2500) dan turun di Superindo (setelah Megamall pluit). Naik angkot merah B 01 (@Rp.2000) dan turun di pokok pizza hut.Tidak jauh dari situ, terlihat gerbang PIK (Pantai Indah Kapuk), jalan sekitar 700 m dan akan melihat gerbang Suaka Marga Satwa Muara Angke.
Bila masih ragu untuk naik angkot, kita bisa taxi dari depan Museum Mandiri sampai gerbang Muara Angke, sekitar Rp. 25.000.
Yang perlu diingat
Jangan lupa membuat SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan) bila ingin melakukan pengamatan burung. Surat ini bisa di dapat di BKSDA Jakarta yang kantornya bertempat di Salemba. Bila hanya ingin jalan-jalan, cukup meminta ijin kepada petugasnya.
Jangan lupa membuat SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan) bila ingin melakukan pengamatan burung. Surat ini bisa di dapat di BKSDA Jakarta yang kantornya bertempat di Salemba. Bila hanya ingin jalan-jalan, cukup meminta ijin kepada petugasnya.
Jangan lupa juga membawa topi, memakai lengan panjang untuk menghindari terik matahari. Selagi pengamatan, jangan membuang sampah sembarangan, di jembatan pengamatan ada beberapa tempat sampah untuk membuang sampah.
Jangan lupa juga membaca papan informasi selama pengamatan, papan ini akan membantu kita melihat tanaman dan hewan-hewan yang bisa dilihat di Muara Angke


wah…jadi penasaran…..ke muara angke……kapan JBC bikin Bird raced muara angke…he..he…
wuah……..
kayaknya seru tu………
kapan2 ajak2 ya…….!!
n_n
from surabaya with love……..
Kapan yuk kesana ramean
Ayo - ayo ditunggu tahun depan ya JGM akan ada Jakarta Bird Race II he he he
wawwwwwwwwwwww seru ke hutan bakau asyyyikkkk
Boleh menambahkan data burungnya??
1. Crowned Night-heron / Kowak Malam (Nycticorax nycticorax)
2. Merbah Cerukcuk / Yellow-vented Bulbul (Pycnonotus goiavier)
3. …. / Racket-tailed Treepie (Crypsirina temia). Ket : Sedang membawa ranting, kayanya sedang membuat sarang…
4. …. / Asian Brown Flycatcher (muscicapa dauurica). Ket : Merupakan jenis migran…
Sekian tambahan spesies yg saya lihat di Muara Angke…. CP : 081808592935 klo mau birding bareng…
Saya juga mau tambahin jenis yang berhasil saya lihat di Muara Angke:
1. Bambangan Kuning / Yellow Bittern
2. Mandar Batu / Common Moorhen
3. Cekakak Suci (Haclyon sancta)
4. Kuntul Kecil (Egretta garzetta)
5. Kokokan Laut (Butorides striatus)
6. Koreksi nama latinnya Blekok Sawah (Ardeola speciosa)
7. Kuntul Besar / Great Egret (Egretta alba)
8. Small Blue Kingfisher / Raja Udang Biru (Alcedo coerulescens)
maaf, mau tanya, kalau rombongannya sekitar 50 orangan gmn? kami kesana hanya untuk sekedar jalan2 mengisi acara company visit kami