Bertemu Kawan Pengembara dari Utara

Kata-kata itu selalu saya dengar setiap bulan migrasi kunjung tiba, senang sampai terbawa mimpi sering saya alami. Memang ini bukan yang pertama kali, tapi selalu terbayang ratusan kelompok elang migran yang terbang bersama-sama.
Sabtu lalu, tanggal 10 Oktober, saya datang ke Puncak Gantole, karena sebelumnya saya sudah melihat Elang di UI dan Bogor..wahh..pasti sudah waktunya migrasi datang. Akhirnya, saya berangkat ke Gantole, sekalian bertemu dengan penggemar para elang ini karena hari sebelumnya juga ada pengumuman di milist SBI-Info.
Saya tidak sendiri, bersama Iwan Londo, saya berangkat ke Gantole. Awan berkabut telah terlihat dan gerimis menemani dalam perjalanan. Saya berharap, awan bisa cerah saat di lokasi Gantole. Tapi, sayangnya awam masih berkabut setibanya kami di puncak gantole. Karena hari masih pagi yaitu jam 9 pagi, kami bersiap-siap menyiapkan peralatan kami, dari binokuler, monokuler, kamera sampai buku panduan. Akhirnya, pengamatan pun di mulai.
Pengamatan disambut dengan Elang Jawa yang terbang..”wahh..ini pasti tanda –tanda elang berikutnya nih..”, gumam saya. Memang benar, tidak lama, saya melihat 1 Sikep Madu Asia dan selanjutnya 25 ekor Elang Alap. Sayang, saya harus melihat di kejauhan, tapi dalam formasi banyak, tetap saja membut saya gembira. Tidak lama, saya pun melihat banyak jenis elang migran ini.
Gantole dan Elang
Apa persamaan Gantole dan Elang? Angin..mereka sama-sama membutuhkan angin yang bisa membantu mereka terbang. Pada jam 9 sampai 11, angin sangat bagus, ini dilihat para pemain gantole terus menerus terbang dan tidak kalah serunya, jam inilah burung-burung elang terlihat. Namun setelah jam 12, angin menjadi jelek, berhembus ke arah sebaliknya dan menyebabkan gantole tidak terbang, begitu juga dengan elang. Kami harus lama menunggu untuk bisa mengamati.
Pemancing dan Elang
Saat saya pengamatan, beberapa pemuda mendekati saya, mereka penasaran apa yang saya lakukan. Pemuda-pemuda ini, yang bernama Yoga, Anton dan Prima berasal dari Tangerang terkesan apa yang kami lakukan. Para hobi pemancing ini mengaku baru pertama kali mengamati burung. Akhirnya kami pun mengamati burung elang bersama. Dari pengenalan jenis sampai mencoba menghitung dalam satu gerombolan telah mereka lakukan. Untungnya mereka berhasil melihat ke-3 jenis elang yang melewati jalur ini, yaitu Elang alap Cina, Elang alap Nipon dan Sikep madu Asia. Sayangnya, tidak semua pengunjung di Gantole terkesan dengan fenomena ini.
Selain ketiga hobi-ers mancing, saya berkesempatan bertemu Kang Use, dia memang sudah lama mengamati jenis-jenis Elang dan sudah menjadi ahli. Akhirnya saya pun mengamati bareng dengan Beliau.
Sosialisasi akan fenomena ini harus terus dilakukan, karena bisa mungkin terjadi burung-burung ini nantinya tidak melewati jalur Puncak lagi, bila sedari sekarang kegiatan-kegiatan pengamatan dan kampanye tidak dilakukan lagi untuk mengurangi penebangan liar di sekitar Puncak.
Akhirnya, pengamatan kami pun, kami sudahi. Kami berhasil mengamati 414 ekor burung migran, yang terdiri dari Elang alap Cina: 114 ekor, Elang alap (tidak teridentifikasi): 142 ekor, Elang alap Nipon: 26 ekor, Elang alap Nipon dan Cina: 65 ekor, Sikep madu Asia: 45, Sikep madu Asia, Elang alap Nipon dan Elang alap Cina: 22 ekor. Ditambah dengan elang lokal masing-masing berjumlah 1, yaitu Elang jawa, Elang hitam dan Elang ular bido.
Tips pengamatan Elang

Pengamatan Elang migrasi sama seperti pengamatan burung biasa, sedari pagi kita sudah harus mengamati burung ini, nah kalo memang mau pengamatan di Puncak Gantole, pengamatan pagi itu penting, bisa jadi kita melihat burung-burung ini terbang sedari mereka istirahat.
Catatan tambahan saat kemarin pengamatan di Gantole, suhu di atas pada pagi hari 27 derajat Celsius dan naik hingga 33 derajat Celcius pada siang hari dan kembali turun hingga 23 derajat Celcius pada sore hari.
Bila melihat cuaca berawan, jangan menyerah dulu, justru terkadang, di balik awan ini para pengembara terbang. Begitu juga saat sore hari menjelang, jangan cepat-cepat ingin pulang. Pengalaman mengatakan, sekitar jam 5 -6 sore, justru elang-elang ini terbang dalam jumlah banyak karena mereka akan mencari tempat istirahat di hutan sekitar Puncak.
Karena pada siang hari terik, jangan lupa membawa topi dan memakai lengan panjang. Bawalah minuman dan cemilan karena harga-harga di lokasi ini bisa dua kali lipat.
Bagaimana Cara ke Puncak Gantole?
Bila rumah di sekitar Jadetabek, bisa naik kereta ke Bogor, setelah itu naik 03 arah terminal Baranangsiang (Rp. 2500). Di sekitar terminal ada mobil L 300 dengan jurusan Ciganjur dan melewati Puncak Gantole. Harga 1 orang (sabtu-minggu) berkisar dari Rp.15.000-20.000. Bisa juga, dari Kampung Rambutan naik bis ke arah Bandung yang melewati Puncak.
Nah, saat pulang di hari weekend, pastinya jalanan macet, cobalah menggunakan angkot biru jurusan Cisarua-Bogor, dengan harga Rp.8.000 kita bisa agak cepat sampai di Bogor, karena angkot ini bisa potong jalan.
Sudah siapkah kita untuk menjamu tamu dari Utara? Ayo..kita mengamati, fenomena ini hanya terjadi 1 kali dalam setahun!
Penulis : Noni/SBI-Info


Wee mantap liputatnya, mohon maaf tahun ini tidak bisa meramaikan pengamatan raptor migran : (
keren… trus daerah yang lain mana? gimana kalo dibikin buklet tentang pengamatan raptor didaerah2 yang dilewati. trus arus baliknya kapan ya?
Iya nih..sekalian deh semangatin temen2 yang lainyang udah pengamatan raptor..di tunggu infonya. Kalo buklet tentang pengamatan raptor di Puncak, saya udah buat dan sudah disosialisasikan pas di Puncak..
Untuk Adi..jangan lupa pengamatan di Jakarta, kalo nga bisa ke Puncak yaa..masih sedikt record raptor lewat di tengah kota Jakarta
keren non…..wah jadi pengen ikut pengamatan raptor….he..he..tapi migran air juga rame kok….iya nggak ndo….melangkah ke ahli raptor nih…..
salam
Gak..cm isi waktu waktu Ring, kasihan para pengembara tidak ada yang menyambut kedatangannya di Bogor.
Pengamatan raptor migran tahun ini terutama di puncak gantole menjadi pengalaman pertama saya,.. cuma sayang banget kedtangan pengembara tahu ini peyambutannya kurang terkodinir. Seperti yang terjadi hari kamis tanggal 31 oktober yang menurut pa david dan teman2nya ada ribuan pengembara yang tak terdata.
Hari jum’at pagi tanggal 1november saya sendirian ke puncak gantole dengan harapan bisa melihat hal serupa, ribuan raptor. Tapi pas hari jum’at itu yang tercatat dari pagi sampai sore hanya 183 soloensis, 29 pernis dan 14 gularis.
Jalur baliknya lewat puncak juga gak ya?
wah senang rasanya bisa pengamatan langsung lihat raptor. dan lihat raptor yang migrasi,, kapan ya saya bisa ikutan.. oya ini alamat blog saya www.aksarayudha.blogspot.com dan tim pengamatan burung Biologi ITS,, www.pecuk.wordpress.com,,,
oya minta ijin ngopy fotonya yang pertama ya mau saya posting diblog
oaya saling kunjung-mengunjungi ya lewat blog…
terimakasih,,,
salam bird wacther
sory alamat pecuk yang bener
www.pecuk.wordpress.com
ga pake (,,,) kebiasaan di sms… wakkakak
Migrasi tahun 2009 ini kurang jelas…Karena biasanya migrasi ini selalu lewat atas rumah saya. Tetapi saya hanya melihat 2o ekor OHB yang lewat di atas rumah. Tetapi yang paling bagus adalah di Pusat Primata Schmutzer. Disana ada 4 Jenis, yaitu Sikep Madu, Alap-alap cina, alap-alap nippon, dan alap-alap kawah. Sikep madu terbang hanya 10-20 meter dari Jembatan di Schmutzer,Ragunan. Soloensis dan gularis terbang dalam koloni 30-50ekor, sedangkan alap-alap kawah hanya terbang 2 ekor dan yang satu terlihat sedang membawa seekor tekukur. Ini adalah pengamatan yang cukup mengesankan…….