“Ini adalah pengalaman pertamaku..lelah..namun sebanding dengan apa yang aku lihat hari itu”
Perjalanan menuju Cibodas dengan tujuan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mulai terasa dingin begitu memasuki kawasan Puncak. Udara dingin khas puncak pada jam 7 malam mulai terasa begitu menusuk pada bekas luka yang ada di tangan saya. Berawal dari Bogor bersama Mas Iwan Londo dan Mas Agus dengan maksud untuk pengamatan burung, kami berangkat dengan motor. Kira-kira 1,5 jam perjalanan, sampailah kami di kawasan Gunung Gede Pangrango. Kopi panas pun menjadi tumpuan kami disaat kami bertiga kedinginan Pagi Nan Cerah dan Kicauan Burung Tepat jam 6 pagi di saat matahari telah memancarkan sinarnya, kami berkemas untuk memulai pengamatan kami. Bersama dengan Ferdinan, pendamping untuk pengamatan, kami memulai di lapangan golf yang ada di belakang Kantor Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango. Di lapangan golf dengan ketinggian sekitar 1355mdpl ini kami menemukan beberapa burung seperti Bondol Jawa,Lonchura leucogastroides, yang sedang bermain bersama saudaranya si Bondol Peking,Lonchura punctulata. Bahkan Kacamata Biasa,Zosterops palpebrosus, seperti menyambut kami di pagi yang cerah. Tidak jauh dari saya dan mas Reno mengamati si bondol yang sedang berjemur, terlihat Cekakak Jawa,Halcyon cyanoventris, terbang dari pinggir air dan digantikan oleh Tekukur Biasa,Streptophelia chinensis, yang akhirnya terbang juga dan bertengger di atas Perenjak Jawa,Prinia familiaris, sedang bercumbu dengan pasanganya
Pengamatan kami lanjutkan menuju Air Terjun, burung Cabai Gunung,Dicaeum sanguinolentum menutup pengamatan kami di Lapangan Golf. Sampai di pintu masuk kami harus membayar uang administrasi satu orang Rp.3000,- sebagai pengganti tiket masuk yang harus dibayar. Perjalanan belum juga ada 200meter Empuloh Janggut,Alophoixus bres balicus, dan Merbah mata merah,Pycnonotus brunncus, serta Cucak gunung,Pycnonotus bimaculatus, rame berkumpul dalam satu pohon sambil mencari makan.
Sambil jalan, sambil pengamatan dan mata jelalatan melihat ke atas, kanan dan kiri mencari arah sumber suara burung yang masih belum terlihat ujudnya. Makin ke dalam kami berjalan suara burung semakin rame. Suara Tepus leher putih, Stachyris thoracica, yang sedang sibuk memberi makan anaknya menjadi perhatian serius Cak Londo (begitu kadang saya memanggilnya). Dia mengendap supaya bisa lebh dekat dengan lokasi induk Tepus itu tanpa mengganggunya. Akhirnya usahanya berhasil 2 sampai 3 gambar berhasil bersarang di memory kameranya
Lokasi Telaga Biru yang berada di ketinggian 1.575m dpl masih lumayan jauh dan sepanjang perjalanan jenis-jenis burung lumayan banyak dan banyak juga yang tidak sempat terindentifikasi karena langsung menghilang di semak belukar. Kancilan Emas, Pachycephala pectoralis javana, berhasil saya identifikasi walaupun harus menunggu lama dia keluar dari balik daun-daun. Menyusuri jalan bebatuan yang tertata rapi dan agak menanjak tidak terasa karena perjalanan kami disuguhi berbagai jenis burung dan tidak terasa kami sampai di Telaga Biru Pengamatan yang menarik saat kami beristirahat, dimulai saat pejantan dari Sikatan belang, Ficedula westermanni itu bertengger pada ranting pohon dengan jarak yang cukup dekat dengan kami. Cak Londo pun tidak mau melewatkan pemandangan itu, tanpa berlama-lama, Ia dan kameranya pun mulai beraksi mengabadikan Sikatan belang yang sedang membawa anaknya berlatih terbang dan terkadang memberikan makan kepada anaknya

