12 October 2006 oleh redaksi
BOGOTA, RABU– Burung baru yang ditemukan di hutan perawan kawasan Andean Kolombia memiliki tubuh beraneka warna. Jenis pipit yang memiliki bulu dada berwarna kuning cerah, sayap hitam, dan kepala berwarna kemerahan ini diberi nama Yariguies diambil dari nama suku pribumi yang pernah mendiami wilayah tersebut.
Burung tersebut ditemukan pada wilayah pegunungan berketinggian 10 ribu kaki di atas permukaan laut pada Januari 2004. Untuk mengakses habitat burung yang sangat terisolasi ini, para peneliti harus berjalan selama 12 jam ke dalam hutan yang sangat lebat dan tergantung pada logistik yang dikirim melalui helikopter.
“Kami pertama kali bertemu Yariguies sekitar tiga tahun lalu di hutan lebat yang terisolasi dan belum pernah didatangi siapapun,” kata salah satu peneliti Thomas Donegan. Mereka kemudian berhasil menangkap dua ekor sebagai sampel. Salah satu di antaranya dilepas ke alam begitu para peneliti mengmabil gambar dan sampel DNA. Namun, satu ekor burung lainnya mati di kandang.
Ia dan para peneliti lainnya menduga burung yang badannya hanya sebesar genggaman tangan merupakan penghuni asli hutan tersebut. Yariguies mungkin tergolong spesies yang terancam punah sehingga perlu diawasi secara terus-menerus.
Temuan ini semakin menguatkan upaya para pecinta lingkungan untuk melindungi wilayah tersebut. Pemerintah setempat baru-baru ini telah menetapkan wilayah seluas 2 juta meter persegi di kawasan hutan perawan sebagai taman nasional. Kolombia dikenal sebagai salah satu kawasan surga bagi burung. Sekitar 1.865 spesies burung ada di negara tersebut.
Sumber: AP
Foto: Blanca Huertas / AP
Penulis: Wah
Kategori General, article, bird, nature, news, photography, research, species, announcement | 2 Comments »
6 September 2006 oleh redaksi
Apa beda antara pedagang dan penjual burung? Tanyakanlah kepada Pak Tua bersepeda dengan kandang unggas dan ikan ini. Ia mungkin akan menjawab, “Sama saja.”
Barangkali juga ia malah tak peduli. Pedagang atau penjual apa bedanya?
Tapi, coba tanyakan kepadanya bagaimana ia bertahan hidup? Ia mungkin akan menjawab, “Ya menjual burung.”
Demi berapa ribu rupiah?
Entah. Pokoknya asal bisa membuat dapurnya berasap kembali.
Pak Tua ini mungkin juga tak pernah peduli bahwa burung-burung yang setiap hari dijualnya pada anak-anak Sekolah Dasar itu suatu saat akan habis. Punah.
Berani bertaruh, boleh jadi ia bahkan tak peduli apakah suatu saat kelak ia kehabisan barang jualannya Mungkin ia memang tak pernah diberi tahu.
Pak Tua itu hanya tahu bahwa prenjak, emprit, punai, gelatik, dan sebangsanya, itu bisa mempanjang nafas kehidupannya. Bisa membuat keluarganya makan. Bisa membuat anak-anaknya bersekolah. Bisa membuat istrinya tersenyum.
Pekerjaan Pak Tua itu mungkin tragedi besar bagi gerakan cinta burung. Tapi siapa yang peduli di tengah angka kemiskinan di negeri ini yang begitu gawat? Kita?
Kategori article, blog, bird, indonesia, photo, photography | 5 Comments »
24 July 2006 oleh redaksi
Gelatik jawa Padda oryzivora, merupakan salah satu jenis burung yang endemik di Jawa Meskipun demikian, namun jenis ini banyak ditemui secara luas dari Asia tenggara hingga Australia karena diintroduksi. Jenis yang memiliki suara seperti jenis Gelatik batu kelabu Parus major yaitu tik.tik..namun lebih tajam, hingga kini sudah sangat jarang ditemui di habitat aslinya. Namun kalau di pasar-pasar burung, pasti banyak terlihat untuk dijual.
Gelatik jawa telah dimasukkan ke daftar CITES Appendix II pada tahun 1997 dan Perlindungan Indonesia No.7 tahun 1999. Berdasarkan Threatened Birds of Asia (Birdlife, 2001), Gelatik jawa Padda oryzivora terlihat di habitat alaminya terakhir pada tahun 1999 di Jawa tengah (Depok termasuk Babarsari, Nologaten dan Catur Tunggal), Candi Kalasan dan Candi Sari, Paliyan di desa kanogoro, Tepus di desa Purwodadi, Jogjakarta. Namun bberapa tahun terakhir ini tahun 2005 oleh pengamat burung ”Anak Burung dan Peksia-Unair”, kembali melihat jenis ini di Surabaya, tepatnya di Ujung Pangkah, Gresik dan Solokuro, Lamongan dan tahun 2006 oleh Yayasan Kutilang Indonesia dan Bionic-UNJ di Candi Prambanan.
Jenis ini masih begitu banyak terlihat di daerah Jawa Tengah, berbeda dengan daerah Jawa Barat, jenis ini justru terakhir kali terlihat di Tanjung, Banyuresmi,Gunung Guntur pada tahun 1998 dan 1999. Tidak adanya jenis ini di daerah Jawa Barat lebih di akibatkan karena habitat alami dari jenis ini hilang dan perburuan untuk dijual ke pasar-pasar burung.
Berdasarkan data terbaru dari Red Data Book (www.rdb.or.id) jenis ini terakir terlihat pada tanggal 29 April 2005 oleh Iwan Londo dan Uut dari Anak Burung, Surabaya, yang melihat sekitar 4 individu di Dusun Ngulaan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur.
Jenis ini kembali terlihat pada tanggal 23 Juli 2006 di daerah Singkil, Bekasi dengan koordinat S 06º05’00.0” E 107º01’25 .3” oleh Nick Brickle, Iwan Londo, Hidayat Ashari dan Fransisca Noni. Jenis ini terlihat bertenggger di pohon Bakau-bakauan di tengah tambak bersama 2 individu Kirik-kirik laut Merops philippinus. Ternyata jenis ini ternyata pernah terlihat oleh Zainuddin dan rekan-rekan saat pengamatan di daerah ini pada tahun 2003, namun oleh mereka tidak diinformasikan. (Noni, Iwan Londo, Nick Brickel, Dayat).
Kategori journal, article, blog, blogging, blogger, bird, birdwatching, indonesia, nature, news, photo, photography, travel | 17 Comments »
23 July 2006 oleh redaksi
Kamis-Minggu, 20-22 Juli 2006, 4 orang pengamat burung, antara lain Nick Brickle, Iwan Londo, Hidayat dan Noni mengadakan suatu perjalanan kecil. Perjalanan ini menuju daerah Pamanukan-Tegalurung-Poponcol-Pangarengan-PondokBali-Mayangan yang berjarak sekitar 186 km dari arah Bogor. Sabtu sore hingga Minggu, kami melanjutkan perjalanan ke Karawang-Singkil yang berjarak sekitar 118 km dari arah Bogor. Bersama Zainuddin dan Teguh kami dipandu untuk melihat jenis-jenis burung air.
Sekitar 75 jenis burung, kami dapati selama 4 hari perjalanan. Dari 75 jenis burung, terdapat 7 jenis burung yang sangat menarik, antara lain Bangau bluwok Mycteria cinerea (5 ekor), Ibis rokoroko Plegadis falcinellus (250 ekor di Pamanukan dan 150 di Bekasi), Cerek Jawa Charadrius javanicus, Kacamata jawa Zosterops flavus, Gelatik jawa Padda oryzivora, Bubut Jawa Centropus nigrorufus, Kedasi Australia Chrysococcyx basalis. (Noni, Iwan Londo, Nick Brickel, Dayat)
Kategori journal, blog, bird, birdwatching, indonesia, nature, photo, photography, travel, weblog | No Comments »